Site icon fost-nepal

Atlassian: Mengapa AI Percepat Kinerja Karyawan, Bukan Organisasi

[original_title]

fost-nepal.org – Adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan seringkali terbalik, dengan fokus pada penggunaan individu daripada kolaborasi tim. Dr. Molly Sands, kepala Teamwork Lab di Atlassian, mengungkapkan hal ini dalam diskusi dengan Sam Witteveen dari VentureBeat. Sands memimpin tim yang terdiri dari ilmuwan perilaku dan psikolog untuk memahami dampak AI dalam cara orang bekerja sama.

Dalam laporan tahunan State of Teams yang melibatkan 12.000 pekerja pengetahuan global dan wawancara dengan 200 eksekutif Fortune 1000, terungkap adanya ketidaksesuaian signifikan antara aktivitas dan nilai. Meskipun 89% eksekutif melaporkan percepatan penggunaan AI di perusahaan mereka, hanya 6% yang dapat menyebutkan contoh jelas mengenai pengembalian investasi (ROI). Sekitar 14% tim berhasil mengubah penggunaan AI menjadi nilai nyata. Tim-tim ini memiliki ciri khas dalam konteks, alur kerja, dan budaya.

Tim yang unggul membangun ‘context graph’, yaitu pengumpulan informasi tujuan dan pengetahuan organisasi dalam catatan digital bersama. Mereka juga mendesain ulang proses kerja secara menyeluruh alih-alih mempercepat tugas yang terpisah. Budaya tim yang cepat bergerak didukung oleh pemimpin yang mendorong eksperimen, meskipun ada kemungkinan kegagalan.

Sands menekankan bahwa eksperimen dan batasan adalah kunci untuk pembelajaran. Tim yang berhasil sering kali menetapkan batasan dalam tiap tugas, mengurangi kompleksitas dan meningkatkan kecepatan serta kualitas kerja. Dengan mengadopsi perjanjian mengenai penggunaan AI, tim dapat bekerja lebih baik dan mengatasi kesenjangan pengetahuan yang ada. AI bukanlah sumber masalah manajemen baru, melainkan memunculkan masalah lama yang lebih konsekuensial, meningkatkan pentingnya konteks bersama dan cara kerja eksplisit.

Exit mobile version