fost-nepal.org – Dalam acara RSA Conference 2026, CEO CrowdStrike, George Kurtz, mengungkapkan bahwa waktu untuk deteksi ancaman kini telah menurun secara signifikan. Waktu rata-rata untuk deteksi ancaman kini hanya 29 menit, turun dari 48 menit pada tahun 2024. Hal ini merupakan waktu yang tersedia bagi tim keamanan untuk merespons sebelum ancaman menyebar lebih luas. Saat ini, teknologi CrowdStrike mampu mendeteksi lebih dari 1.800 aplikasi AI yang berjalan di perangkat perusahaan, dengan total hampir 160 juta instansi aplikasi.
Dalam konferensi, Cisco juga mengemukakan bahwa 85% dari pelanggan perusahaan yang disurvei telah memulai proyek percontohan agen AI, namun hanya 5% yang telah memasuki tahap produksi. Tantangan utama yang dihadapi tim keamanan adalah kesulitan dalam mengidentifikasi aktivitas apa yang diinisiasi oleh agen dan apa yang dilakukan oleh pengguna manusia.
Etay Maor, VP Threat Intelligence di Cato Networks, menyoroti kompleksitas keamanan sebagai ancaman utama di era AI, menekankan bahwa solusi-solusi yang beragam justru dapat menambah kerumitan. Di sisi lain, Elia Zaitsev, CTO CrowdStrike, menegaskan bahwa sulit untuk membedakan aktivitas yang dijalankan oleh agen dengan aktivitas manusia dalam log keamanan, yang meningkatkan risiko deteksi ancaman yang terlambat.
Kurtz juga memperingatkan tentang ancaman serangan rantai pasokan, seperti serangan ClawHavoc yang menargetkan sistem agen AI, serta pentingnya keamanan yang menyeluruh dari sejak tahap pengembangan hingga implementasi. Dengan perubahan cepat dalam lanskap keamanan ini, para pemimpin keamanan diharapkan untuk segera mengambil tindakan strategis agar tetap relevan dan efektif dalam melindungi organisasi mereka.