fost-nepal.org – Jensen Huang, CEO Nvidia, menjadi sorotan dalam konferensi All-In yang berlangsung di Los Angeles pada hari Senin, ketika Presiden Trump melakukan panggilan langsung kepadanya di atas panggung. Dalam momen yang menarik perhatian itu, Huang mengenakan jaket kulit aligator khasnya dan menerima sebuah ponsel lipat untuk menjawab panggilan tersebut.
Setelah menghubungkan Trump melalui speaker, pembicaraan beralih ke isu keamanan kecerdasan buatan (AI). Keduanya tampak sepakat bahwa kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai AI dianggap Trump sebagai sebuah “penipuan”. Selain itu, Trump berargumen bahwa kekuatan utama dari kepanikan terhadap AI justru dimanfaatkan oleh China dan kalangan politik, seraya menegaskan bahwa teknologi ini terlalu besar untuk diperlambat—“bahkan lebih besar daripada internet,” ujarnya. Huang kemudian menyebutkan tepuk tangan serentak dari audiens selama interaksi tersebut.
Sikap Huang dalam hal ini menimbulkan pertanyaan terkait pandangannya yang sesungguhnya. Model bisnis Nvidia sangat bergantung pada pembelian chip oleh laboratorium AI, sehingga menurunkan risiko yang dianggap mengancam menjadi pilihan strategis demi menjaga nilai saham perusahaannya. Meskipun nilai saham Nvidia masih meningkat 33% dalam setahun terakhir, terdapat penurunan beberapa poin persentase pada hari yang sama.
Dengan momen ini, perdebatan mengenai risiko dan potensi yang dibawa oleh kemajuan AI semakin memanas, dan keduanya menegaskan pentingnya diskusi di kalangan pemimpin teknologi dan politik. Pengaruh pembicaraan tersebut tidak hanya berpotensi memberikan dampak pada industri AI, tetapi juga pada kebijakan dan strategi di masa depan.