fost-nepal.org – CEO Meta, Mark Zuckerberg, baru-baru ini mengumumkan pelaksanaan hackathon besar-besaran di seluruh perusahaan yang akan berlangsung bulan depan. Namun, pengumuman ini cepat memicu kekecewaan di kalangan karyawan. Banyak di antara mereka merasa tidak memiliki waktu untuk terlibat dalam kegiatan tambahan tersebut, terutama setelah mengalami pemotongan staf yang signifikan baru-baru ini.
Dalam pesan internal yang terlihat, beberapa karyawan menyatakan kesulitan mereka untuk berpartisipasi, karena mereka harus fokus pada tanggung jawab yang meningkat pasca pemecatan massal. Seorang karyawan mengungkapkan, “Saya sibuk menjaga agar tim saya tetap berjalan. Saya tidak memiliki insentif untuk berpartisipasi.”
Zuckerberg menekankan bahwa hackathon ini bertujuan untuk memperkuat kebersamaan di tengah ketidakpastian internal. Acara tersebut, dijadwalkan berlangsung pada 14 hingga 16 Juli, akan fokus pada inovasi AI. Namun, respon negatif tidak dapat dihindari, dengan beberapa karyawan mengkritik budaya perusahaan saat ini yang dianggap tidak mendukung kegiatan semacam itu.
Beberapa menyampaikan bahwa kegiatan hackathon tidak akan berpengaruh pada evaluasi kinerja, menambah rasa frustrasi dalam partisipasi mereka. Seorang karyawan bahkan mempertanyakan, “Apakah perusahaan ini masih mendukung budaya hackathon?”
Zuckerberg pada kesempatan itu juga mengumumkan peningkatan anggaran untuk acara tim dan menghapus konsep penggunaan meja bersama di beberapa kantor, sebagai upaya untuk meningkatkan semangat kerja karyawan setelah serangkaian kritik terkait pemecatan. Sementara itu, meski berbagai inisiatif telah diperkenalkan, karyawan tetap merasakan tekanan karena tuntutan kerja yang semakin meningkat dan kehilangan tenaga kerja.