Site icon fost-nepal

Maskapai Mulai Siapkan Strategi Menghadapi Krisis Minyak

fost-nepal.org – Perang dengan Iran dan blokade yang terjadi di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga minyak, memicu pemerintah untuk mencari cadangan energi mereka. Situasi ini menyebabkan ketidakpastian di pasar global dan berpotensi mempengaruhi ekonomi dunia secara keseluruhan.

Seorang CEO maskapai penerbangan, Scott Kirby dari United Airlines, telah mengeluarkan memo kepada karyawan bahwa perusahaannya bersiap untuk dampak jangka panjang akibat harga minyak yang tinggi. Dalam memo tersebut, Kirby memperkirakan harga minyak akan mencapai $175 per barel dan tidak turun ke $100 per barel sebelum akhir tahun 2027. Inflasi harga bahan bakar jet telah berlipat ganda sejak perang dimulai, mengancam profitabilitas maskapai penerbangan.

Kirby juga mengumumkan bahwa United Airlines akan mengurangi sekitar 5 persen dari jadwal penerbangan yang direncanakan untuk kuartal kedua dan ketiga tahun ini, terutama pada waktu-waktu yang kurang diminati, seperti penerbangan malam dan hari-hari perjalanan yang kurang populer. Hal ini menunjukkan bahwa dampak dari kenaikan harga bahan bakar telah terasa di industri penerbangan.

Analisis menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh United bukan hanya berdampak pada industri perjalanan, tetapi juga pada ekonomi global. J. Miller, seorang profesor manajemen rantai pasokan, menjelaskan bahwa efek krisis energi ini muncul di saat yang sangat tidak menguntungkan, mengingat kondisi pasar tenaga kerja yang lesu dan ekonomi global yang dipengaruhi oleh kebijakan tarif yang tidak menentu di AS.

Kenaikan harga bahan bakar telah membuat banyak maskapai seperti American Airlines menghabiskan tambahan $400 juta untuk bahan bakar. Meskipun terdapat permintaan kuat dalam beberapa minggu terakhir, ketidakpastian tentang berapa lama kondisi ini akan berlangsung membuat maskapai penerbangan harus tetap fleksibel dalam menyesuaikan kapasitas mereka.

Exit mobile version