fost-nepal.org – Sebuah video sedang viral di media sosial, menampilkan seorang vlogger bernama Roxy In Time yang mengajak penonton menjelajahi Seattle pada tahun 1992. Dalam tayangan tersebut, Roxy, yang merupakan karakter buatan AI, melakukan perjalanan ke masa kejayaan musik grunge, dua tahun sebelum kehadiran Amazon dan 15 tahun sebelum ledakan teknologi di wilayah tersebut.
Dengan mengenakan pakaian khas era grunge, seperti kaos Nirvana dan celana robek, Roxy berkunjung ke Crocodile Cafe untuk menonton band Mudhoney. Ia juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Easy Street Records di West Seattle, menelusuri koleksi musik kuno. Tayangan ini menawarkan gambaran menarik tentang budaya dan suasana kota Seattle lebih dari tiga dekade lalu, di mana orang-orang terlihat menikmati musik sambil menikmati kopi tanpa gangguan dari perangkat digital.
Namun, video ini juga memicu respon beragam dari publik. Sebagian merasa teredukasi oleh pendekatan unik ini, sementara yang lain khawatir tentang potensi AI dalam menggantikan kreativitas manusia dan dampak negatif dari konten berlebihan di media sosial. Meski Roxy berhasil menghadirkan nuansa tahun 1992, batasan teknologi AI tampak jelas, terutama saat menampilkan teks yang sering kali kacau dan tidak terbaca dengan baik.
Di akhir video, Roxy, yang pada awalnya fokus merekam, menyadari pentingnya pengalaman langsung dan menghentikan rekaman untuk menikmati penampilan. Keterlibatan penonton dalam dunia yang tidak mengenal smartphone ini menjadi indikasi akan pergeseran besar dalam cara orang berinteraksi dengan hiburan di masa depan.