fost-nepal.org – Hattab, seorang warga Palestina di Tepi Barat, mengatasi kekhawatiran masyarakat yang semakin meningkat terkait kondisi jalan saat perjalanan malam hari. Ketakutan masyarakat berasal dari kurangnya informasi tentang situasi di cekpoints, sehingga Hattab memutuskan untuk menciptakan solusi bagi dirinya dan warga lainnya.
Tujuh tahun yang lalu, Hattab meluncurkan grup Telegram bernama “Kondisi Jalan.” Tujuan dari grup ini adalah untuk berbagi informasi tentang pergerakan di cekpoints, seperti penutupan, keterlambatan, atau keberadaan pasukan militer dan penyerang. Awalnya, partisipasi dalam grup tersebut berkembang perlahan, namun mulai mengalir deras sejak cekpoints semakin banyak dan keterlambatan semakin parah pada tahun 2022.
Dengan semakin banyaknya anggota dalam grup, tanggung jawab Hattab pun meningkat. Ketika cekpoints menutup akses ke kota-kota besar, jumlah pengguna bisa melonjak hingga ribuan. Banyak pengguna yang menanyakan kondisi cekpoints yang sama, dengan informasi berdatangan dengan cepat. Hattab mencatat bahwa perubahan situasi dapat terjadi dalam hitungan menit, membuatnya harus memantau ribuan pesan setiap hari.
Sejak memulai grup ini, Hattab telah menempuh perjalanan di Tepi Barat yang tergolong ekstrem; odometernya menunjukkan angka yang setara dengan lebih dari lima kali berkeliling dunia, meskipun luas wilayah Tepi Barat hanya sekitar 130 kilometer. Grup ‘Kondisi Jalan’ yang awalnya merupakan alat bantu demokrasi kini telah menjadi utilitas penting. Untuk menjaga keandalan informasi, Hattab menutup obrolan publik dan meminta kontributor aktif menjadi moderator, yang saat ini terdiri dari lebih dari seratus relawan. Para pengemudi dari berbagai penjuru Tepi Barat mengirimkan laporan beserta foto atau video, sementara moderator memverifikasi informasi tersebut dengan cara cross-check dan memantau langsung jalur tersebut.