Site icon fost-nepal

RSI Kini Jadi AGI yang Sulit Dipahami dan Didefinisikan

fost-nepal.org – Istilah “rekursi” kini menjadi sorotan di kalangan komunitas kecerdasan buatan (AI). Dua startup terpisah telah mengadopsi nama ini, sedangkan lebih banyak lagi merujuk pada konsep peningkatan diri rekursif (RSI) dalam rencana pengembangan mereka. RSI dipandang sebagai langkah besar menuju superinteligensi, meskipun terdapat ketidaksepakatan tentang maknanya.

Secara sederhana, RSI berarti sistem AI yang dapat terus memperbarui dirinya sendiri. Jika sistem ini mampu mengelola siklus peningkatan lebih baik daripada manusia, prosesnya dapat menjadi siklus tertutup, tergantung pada daya komputasi yang tersedia, tanpa memerlukan campur tangan manusia. Meskipun terdengar menakutkan, visi ini diincar banyak laboratorium AI.

Di bulan ini, peneliti AI terkemuka, Richard Socher, meluncurkan Recursive Superintelligence dengan RSI sebagai tujuan utama. Ia menyatakan fokus utamanya adalah membangun superinteligensi yang secara otomatis mengelola ide dan implementasi penelitian. Selain itu, Alex Karpathy dari Tesla dan OpenAI juga mengejar tujuan serupa lewat proyek Auto-Research, yang menggunakan kelompok agen untuk melatih model bahasa besar.

Startup Adaption, yang didirikan oleh mantan karyawan Cohere dan Google, baru-baru ini meluncurkan alat bernama AutoScientist, bertujuan untuk mengotomatiskan pelatihan model tingkat tinggi. Selain itu, peneliti Doris Xin menarik perhatian dengan agen pembelajaran mesin yang mengalahkan banyak agen yang dilatih manusia di kompetisi Kaggle.

Namun, CEO Google, Sundar Pichai, mengakui bahwa industri AI belum siap untuk sistem rekursif yang berarti. Sementara itu, para peneliti terus bersikap optimis terhadap kemajuan teknologi ini, meskipun ada tantangan signifikan yang harus dihadapi di masa mendatang. Saat ini, semua pihak sepakat bahwa meskipun kemajuan telah dicapai, sistem AI yang sepenuhnya rekursif masih dalam perjalanan dan belum mencapai titik itu.

Exit mobile version