Site icon fost-nepal

Strait of Hormuz Dibuka Kembali, Pemulihan Pengiriman Global Lama

[original_title]

fost-nepal.org – Kehadiran gencatan senjata dan kemungkinan dibukanya Selat Hormuz pada Selasa malam lalu memberikan harapan bagi pelaku industri pengiriman global yang terdampak. Meskipun demikian, gangguan terhadap pengiriman barang yang telah berlangsung lebih dari sebulan tidak akan segera teratasi. Menurut Carsten Ladekjær, CEO Glander International Bunkering, trafik di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis hingga sekitar 95 persen selama konflik, yang mengakibatkan lonjakan harga tidak hanya untuk minyak mentah, tetapi juga produk olahan seperti bahan bakar jet dan diesel.

Negara-negara yang sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah, terutama di Asia, sangat merasakan dampak ini. India, misalnya, mengimpor sekitar 55 persen energinya dari kawasan tersebut, sementara China dan Jepang juga mengalami pengaruh serupa dengan persentase yang cukup besar. Meskipun gencatan senjata memberikan sinyal positif, rincian lebih lanjut mengenai proses pembukaan kembali Selat Hormuz masih tetap kabur. Ladekjær menekankan bahwa meskipun gencatan senjata telah diumumkan, proses pembukaan tidak bisa dilakukan secara instan karena masih ada tumpukan kapal yang menunggu.

Saat ini, sekitar 1.000 kapal, termasuk ratusan tanker, terjebak di Teluk Persia. Lebih dari 800 kapal kargo dan tanker masih terjebak, menanti izin untuk melintas. Dalam kondisi normal, sekitar 150 kapal melewati selat tersebut setiap harinya, namun kini dibutuhkan waktu untuk menyelesaikan tumpukan tersebut, karena kapal harus diproses secara berurutan. Lonjakan harga bahan bakar di pasar energi sudah terlihat, sementara laporan menunjukkan bahwa harga minyak mentah Brent turun sekitar 15 persen, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik. Tantangan logistik dan keamanan di kawasan tersebut membuat situasi semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan dengan cepat.

Exit mobile version