fost-nepal.org – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar menunjukkan ketimpangan yang mencolok, terutama di Afrika, di mana kurang dari 1.000 unit kartu grafis (GPU) tersedia untuk penelitian lokal. Dalam pernyataannya, Amandeep Singh Gill, utusan khusus PBB untuk teknologi digital, mengungkapkan bahwa kekuatan dan kekayaan teknologi terkonsentrasi di beberapa wilayah kecil, terutama di AS. Hal ini disampaikan Gill dalam konferensi Etika dan Teknologi yang diadakan di Universitas Seattle pada 15 Mei 2026.
Gill menekankan bahwa tahun ini sangat penting dalam pengelolaan AI, seiring dengan pergeseran teknologi dari kemampuan model menjadi sistem yang mampu menjalankan tugas secara otomatis. Ia menyoroti perlunya pendekatan yang komprehensif dan internasional dalam mengatur AI, dengan merujuk pada respons global terhadap model AI Mythos dari Anthropic yang dibatasi perilisannya karena kekhawatiran keamanan siber.
Dalam pidatonya, Gill juga memperingati bahwa AI dapat menjadi “risiko sistemik” yang semakin meningkat. Ia mencatat bahwa teknologi ini berisiko memperburuk konflik bersenjata dan erosi kepercayaan publik melalui penyebaran informasi palsu. Selain itu, tuntutan energi yang tinggi untuk pelatihan model-model besar berpotensi mengancam target iklim nasional.
PBB juga berencana membentuk panel ilmiah khusus untuk AI yang terinspirasi oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), dengan harapan memberikan suara lebih luas bagi berbagai negara. Gill menyebut pengelolaan AI sebagai keputusan berdaulat dan mendorong dukungan untuk proyek AI berbasis komunitas yang dapat memberdayakan masyarakat lokal.
Dengan sumber daya PBB yang terbatas, Gill menegaskan pentingnya mempertimbangkan dampak AI secara global agar tidak terjebak dalam konflik geopolitik dan kekuatan pasar yang merugikan. Ia berharap AI dapat memberdayakan masyarakat luas dan menciptakan peluang bagi semua, tidak hanya bagi segelintir orang kaya.