fost-nepal.org – Pesawat E-3 Sentry AWACS Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengalami kerusakan parah akibat serangan rudal Iran terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Insiden ini terjadi pekan lalu dan menandai kerugian besar bagi militer AS, dengan foto-foto yang beredar menunjukkan kondisi pesawat tersebut hancur total.
E-3 Sentry AWACS merupakan pesawat yang tidak biasa, melainkan sistem peringatan dan kontrol udara yang berfungsi sebagai pusat komando dan pemantauan dari udara. Dalam konteks operasi militer, pesawat ini berperan sebagai “mata” yang membantu memantau pergerakan pesawat lawan, mengatur lalu lintas udara tempur, dan mengoordinasikan serangan serta pertahanan udara. Oleh karena itu, perannya sangat krusial dalam strategi militer AS.
Pesawat ini merupakan modifikasi dari Boeing 707/320, memiliki panjang 46 meter dengan rentang sayap 44,4 meter. E-3 Sentry ditenagai oleh empat mesin turbofan Pratt & Whitney TF33-PW-100A, dengan masing-masing mampu menghasilkan dorongan sebesar 21.000 pon. Ketinggian operasionalnya mencapai lebih dari 41.000 kaki, dan pesawat ini dapat terbang selama 8 jam atau menempuh jarak hingga 5.000 mil laut tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar.
Serangan ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang telah lama menjadi titik fokus dari konflik antara AS dan Iran. Kerugian ini juga menunjukkan kerentanan aset-aset militer AS di wilayah tersebut, mengimplikasikan perlunya evaluasi terhadap strategi keamanan yang diterapkan di wilayah konflik.