fost-nepal.org – Microsoft baru saja meluncurkan Agent 365, platform manajemen yang dirancang untuk mengawasi dan mengatur agen AI, dari tahap pra-rilis ke ketersediaan umum. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan perangkat lunak tersebut menganggap tantangan tata kelola terkait AI otonom kini bukan lagi sekadar teori, melainkan masalah mendesak yang harus ditangani. Diluncurkan pada konferensi Ignite tahun lalu, Agent 365 berfungsi sebagai pusat kontrol bagi tim TI dan keamanan untuk memantau dan mengamankan agen AI yang beroperasi baik dalam ekosistem Microsoft maupun di platform cloud pihak ketiga seperti AWS dan Google Cloud.
David Weston, Wakil Presiden Keamanan AI di Microsoft, menjelaskan bahwa saat ini banyak perusahaan menghadapi situasi di mana pengembang secara cepat menghubungkan agen AI ke sistem backend, tanpa menyadari resiko yang dapat muncul. Terdapat tiga kategori insiden keamanan yang sudah diamati Microsoft: pembukaan akses tidak sah ke infrastruktur yang sensitif, serangan injeksi melalui sumber data tidak terpercaya, serta masalah yang lebih umum dimana agen terhubung ke sumber data yang tidak memahami pola akses agen.
Selain itu, Agent 365 memperkenalkan kemampuan untuk mendeteksi dan mengelola agen AI lokal yang diinstal pengguna tanpa sepengetahuan IT. Dengan demikian, admin dapat mengidentifikasi perangkat yang menjalankan agen dan menerapkan kebijakan untuk membatasi akses. Microsoft juga berencana untuk memperluas penemuan agen lokal hingga 18 jenis agen berbeda pada Juni 2026.
Dengan strategi ini, Microsoft berharap dapat membantu perusahaan dalam mengatur dan mengamankan penggunaan agen AI, mengingat potensi risiko yang muncul di lingkungan kerja yang semakin kompleks.