fost-nepal.org – Industri bioteknologi di Amerika Serikat menghadapi tantangan signifikan terkait ketersediaan infrastruktur dan tenaga kerja berkompetensi. Saat perwakilan Komisi Keamanan Nasional tentang Bioteknologi Baru berkunjung ke Seattle, mereka mendengar dari sektor industri bahwa meskipun kemajuan sains tersedia, produksi pada skala komersial sering kali harus dilakukan di luar negeri. Perusahaan seperti Arzeda, yang berfokus pada desain enzim untuk berbagai produk, telah kesulitan menemukan produsen domestik yang memiliki keahlian dan kapasitas yang dibutuhkan. CEO Arzeda, Alexandre Zanghellini, menyatakan bahwa keterlambatan dalam produksi dapat berakibat fatal bagi inovasi bioteknologi.
Komisi yang dibentuk oleh Kongres ini bertujuan untuk memetakan langkah-langkah strategis agar AS tetap kompetitif di tengah ancaman dari negara-negara lain, terutama China, yang telah menetapkan bioteknologi sebagai prioritas strategis sejak dua dekade lalu. Dalam laporan yang diterbitkan tahun lalu, komisi memberikan 49 rekomendasi yang mencakup investasi federal sebesar $15 miliar selama lima tahun serta pembenahan kapasitas manufaktur domestik.
Saat ini, perhatian mendalam diperlukan untuk membangun jaringan manufaktur bioteknologi dalam negeri. Anggota komisi, Alexander Titus, menekankan perlunya program pelatihan yang lebih kuat untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap memasuki sektor biomanufaktur, serta urgensi untuk mengatasi “lembah kematian” yang terjadi antara riset dan produksi.
Diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan perusahaan untuk memastikan bahwa inovasi tetap berlangsung di AS, tanpa harus tergantung pada manufaktur luar negeri. Dengan mendesak Kongres dan lembaga terkait, komisi berharap AS dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin global dalam bioteknologi.