fost-nepal.org – Kompetisi kembali berlanjut di luar angkasa dengan fokus terbaru pada bulan, yakni pengembangan basis bertenaga nuklir. Sekitar enam dekade setelah Amerika Serikat memenangkan perlombaan luar angkasa pertama, NASA dan Departemen Energi AS berencana untuk mengembangkan reaktor nuklir yang dapat beroperasi di permukaan bulan, menargetkan demonstrasi pembangkit listrik berkapasitas 40 kilowatt pada tahun 2030.
Roger Myers, seorang konsultan aerospace, menjelaskan bahwa penjadwalan ini berkaitan erat dengan ambisi Tiongkok untuk mendaratkan taikonaut mereka di bulan pada tahun 2030 dan membangun kehadiran berkelanjutan pada tahun 2035. Myers menekankan, “Amerika Serikat harus memilih antara melihat bendera Tiongkok di bulan atau bendera Tiongkok dan Amerika bersamaan.”
Keperluan pengembangan basis bulan ini didorong oleh potensi sumber daya yang dapat diambil dari bulan, seperti helium-3 yang lebih melimpah dibandingkan di bumi. Sumber daya ini memiliki nilai ekonomi tinggi, dan bisa digunakan untuk teknologi masa depan seperti komputer kuantum dan reaktor fusi.
Nuklir dipilih sebagai sumber energi utama karena kemampuannya menyediakan energi berkelanjutan dalam kondisi bulan yang menghadapi malam selama dua minggu. Myers menekankan, daya 100 kilowatt sangat penting untuk operasi di bulan, dan solar tidak cukup untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Sejalan dengan itu, pemerintah AS telah mengalokasikan anggaran sebesar 250 juta dolar untuk pengembangan reaktor bulan. NASA dan Departemen Energi diharapkan akan menggandeng mitra komersial dari industri nuklir untuk mewujudkan proyek ini. Dalam konteks pengelolaan limbah nuklir, rencana pembuangan dilakukan dengan cara mengubur reaktor setelah masa pakainya habis.
Myers menambahkan bahwa pengembangan ini tidak hanya bersifat strategis tetapi juga penting untuk kesinambungan penelitian dan eksplorasi di luar angkasa.