fost-nepal.org – Dalam perkembangan terbaru di industri startup AI, para pendiri dan investor ventura (VC) mulai menerapkan mekanisme penilaian baru untuk menciptakan kesan dominasi pasar. Sebelumnya, startup paling diminati biasanya mengumpulkan dana dalam beberapa putaran dengan nilai yang terus meningkat. Namun, fokus pada penggalangan dana tersebut menimbulkan gangguan bagi pendiri dalam membangun produk mereka.
Salah satu contoh nyata adalah pendanaan Seri A dari Aaru, sebuah startup yang melakukan riset menggunakan pelanggan sintetis. Pendanaan ini dipimpin oleh Redpoint, yang menginvestasikan sebagian besar dananya dengan valuasi sebesar $450 juta, dan kemudian kembali berinvestasi di valuasi $1 miliar. Dengan cara ini, Aaru dapat dianggap sebagai unicorn, yaitu perusahaan yang bernilai lebih dari $1 miliar, meskipun sebagian saham diperoleh pada harga yang lebih rendah.
Jason Shuman, seorang mitra umum di Primary Ventures, menyatakan bahwa angka besar dalam penilaian tersebut menjadi strategi untuk menghalau VC lain dari mendukung pesaing di pasar. Meskipun peringkat valuasi ini menciptakan kesan pemenang, rata-rata harga yang dibayar oleh VC terkemuka sebenarnya jauh lebih rendah.
Wesley Chan dari FPV Ventures menilai taktik ini mencerminkan perilaku berisiko dari gelembung investasi. Praktik ini juga memungkinkan startup untuk mengakomodasi minat investor yang berlimpah, memungkinkan mereka ikut berinvestasi meski dengan harga yang lebih tinggi.
Namun, meskipun valuasi tinggi dapat menarik bakat dan pelanggan korporat, metode ini berisiko. Dalam situasi penurunan, seperti yang terjadi pada tahun 2022, perusahaan-perusahaan ini mungkin kesulitan untuk menjelaskan valuasi tinggi yang mereka miliki, yang dapat mengakibatkan berkurangnya kepemilikan pemilik dan investor. Jack Selby dari Thiel Capital menekankan bahwa mengejar valuasi ekstrem adalah permainan berbahaya yang dapat berujung pada keruntuhan.