fost-nepal.org – Francis de Souza, COO dari Google Cloud, baru-baru ini memberikan wawasan penting mengenai keamanan AI dalam sebuah acara di Los Angeles. Ia menyampaikan bahwa perusahaan harus memperhatikan aspek keamanan secara proaktif dalam perjalanan mereka menggunakan teknologi AI. Menurutnya, “perusahaan tidak boleh menganggap remeh keamanan.” Ia menekankan bahwa keamanan, strategi data, dan strategi AI harus berjalan beriringan.
De Souza memberi tanda bahaya mengenai “shadow AI,” di mana karyawan menggunakan alat konsumen tanpa pengawasan organisasi. Perusahaan perlu memprioritaskan keamanan, tata kelola, dan auditabilitas sejak awal. Peringatan ini penting karena lanskap ancaman saat ini telah berubah drastis, dengan waktu antara pelanggaran awal dan tahap selanjutnya dari serangan yang kini hanya 22 detik, jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya yang mencapai delapan jam.
Ia juga mengungkapkan betapa pentingnya memiliki pendekatan keamanan yang konsisten di berbagai platform cloud, karena banyak perusahaan yang tidak menyadari mereka bergantung pada lebih dari satu penyedia cloud. Dalam konteks ini, perusahaan dituntut untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.
Sayangnya, meskipun AI mulai berperan dalam pertahanan keamanan, kekurangan tenaga ahli di bidang ini masih menjadi masalah besar. De Souza percaya bahwa pekerjaan di bidang keamanan siber akan semakin dibutuhkan untuk mengatasi kerentanan yang muncul akibat penggunaan teknologi AI.
Sementara itu, adanya laporan mengenai tagihan tinggi akibat penggunaan API yang tidak sah pada Google Cloud menunjukkan perlunya evaluasi lebih jauh terhadap kebijakan terkait penggunaan dan keamanan layanan. Meskipun Google telah memberikan pengembalian dana kepada beberapa penggunanya, masalah ini menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi dan kecepatan respons sistem terhadap kerentanan yang ada.