fost-nepal.org – Truecaller, salah satu platform identifikasi penelepon terpopuler di dunia, sedang menghadapi tantangan baru seiring perlambatan pertumbuhan di pasar terbesarnya, India, yang menyumbang sekitar 70% dari total 500 juta pengguna global. Penurunan ini terjadi dalam konteks persaingan yang semakin ketat dari operator telekomunikasi dan platform smartphone lainnya.
Sejak diluncurkan, Truecaller telah bertransformasi dari layanan identifikasi penelepon menjadi alat penting dalam komunikasi sehari-hari, dengan fitur-fitur baru seperti AI Assistant dan Family Protection. Namun, dengan adanya inisiatif Calling Name Presentation (CNAP) di India yang menampilkan nama penelepon berdasarkan data KYC, potensi pertumbuhan Truecaller mulai tertekan.
Data menunjukkan bahwa unduhan dari India menurun 16% tahun-ke-tahun pada 2025, dengan total unduhan global juga menyusut 5%. Hal ini menjadi perhatian bagi investor, mengingat saham perusahaan jatuh sekitar 78% sejak IPO pada 2021. Rishit Jhunjhunwala, CEO Truecaller, mengakui bahwa sejumlah pertanyaan investor terkait dampak CNAP menggambarkan kekhawatiran terhadap model bisnis perusahaan ke depan.
Kendati demikian, sektor lain, seperti pendapatan dari iklan dan layanan langganan, menunjukkan pertumbuhan positif. Truecaller telah melaporkan peningkatan substansial dalam pendapatan dalam aplikasi dan terus mengembangkan layanan untuk pengguna dan bisnis. Dengan lebih dari empat juta pelanggan berbayar, Truecaller berkomitmen memperkuat posisinya di pasar meski menghadapi tantangan privasi dan kompetisi. Disisi lain, era digital yang semakin kompleks memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan cepat agar tetap relevan.