fost-nepal.org – Laporan terbaru dari Stanford berjudul “2026 AI Index” menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara negara yang memimpin dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan negara yang mengadopsinya. AI Index ini melakukan analisis mendalam mengenai berbagai aspek terkait AI, termasuk kinerja teknis, investasi, dan kondisi pasar tenaga kerja. Dengan total 400 halaman, laporan ini mencakup dua belas temuan utama yang mengkonfirmasi tren yang sudah diketahui, seperti meningkatnya kinerja AI dan banjir investasi, tapi juga menyajikan fakta mengejutkan.
United Arab Emirates (UAE) muncul sebagai pemimpin dengan tingkat adopsi AI tertinggi, mencapai 64%, diikuti oleh Singapura (61%), Norwegia, Irlandia, dan Prancis. Sementara itu, Amerika Serikat berada di urutan ke-24 dengan 28,3%. Tak hanya mengejutkan, fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara investasi besar yang dilakukan AS dalam teknologi AI, mencapai $285,9 miliar, dan adopsi teknologi ini di kalangan masyarakat.
Penurunan jumlah peneliti AI yang datang ke AS juga menjadi perhatian. Dari tahun 2017, jumlah akademisi yang pindah ke AS menurun hingga 89%. Kesenjangan ini bukan disebabkan oleh aksesibilitas teknologi, karena masyarakat AS dapat mengakses alat yang sama dengan pengguna di negara lain. Meskipun sektor publik menunjukkan optimisme terhadap AI, hanya 33% warga AS yang percaya bahwa teknologi ini akan membaik dalam pekerjaan mereka.
Laporan ini menunjukkan bahwa meskipun AS adalah pemimpin dalam pengembangan AI, negara tersebut tampak kurang dalam hal pemanfaatan teknologi ini oleh masyarakat. Penyebab pasti dari kesenjangan ini belum jelas, tetapi temuan menunjukkan perlunya pemahaman dan kebijakan yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi AI.