fost-nepal.org – Sekretaris Perdagangan AS, Howard Lutnick, baru-baru ini mengungkapkan kekhawatiran tentang kemungkinan salah satu mesin lithografi ekstrem ultravioleto (EUV) buatan ASML, perusahaan Belanda, telah jatuh ke tangan China. Mesin ini merupakan satu-satunya alat yang dapat mencetak pola semikonduktor paling canggih, dan jika memang demikian, hal itu akan melanggar kontrol ekspor yang melarang ASML menjual teknologi tersebut ke China sejak era pemerintahan Trump.
Kekhawatiran ini muncul setelah beberapa pejabat tinggi pemerintahan AS mengklaim memiliki bukti bahwa ASML telah mengirimkan komponen terkait EUV dan peralatan transportasi ke China. Namun, bukti tersebut belum dipublikasikan, bahkan kepada ASML itu sendiri yang menegaskan bahwa tidak ada mesin seperti itu yang pernah ada di China.
ASML adalah perusahaan yang relatif tidak dikenal secara luas, tetapi perannya sangat vital dalam perkembangan teknologi AI global. Seluruh prosesor canggih yang diproduksi oleh TSMC, pabrik yang memproduksi chip untuk Nvidia dan Apple, bergantung pada peralatan dari ASML. Perusahaan ini telah berinvestasi selama dua dekade untuk mengembangkan teknologi tersebut, menjadikannya satu-satunya penyedia yang ada.
Jika satu mesin EUV sampai ke China, hal itu akan menjadi pelanggaran signifikan dalam upaya AS untuk menjaga teknologi canggih agar tidak jatuh ke tangan militer dan industri China. CEO ASML, Christophe Fouquet, menyatakan bahwa perusahaan selalu melacak setiap mesin yang telah dikirimkan, dan tidak ada mesin EUV yang beredar di China.
Dalam konteks ini, ASML tetap mempertahankan hubungan komersial dengan China melalui penjualan alat lithografi generasi lama, namun dengan cara yang tidak memperkuat kompetitor masa depan. Ketidakpastian ini menciptakan dinamika yang menarik antara kebijakan pemerintah dan keberlanjutan bisnis perusahaan di pasar global.