fost-nepal.org – Komunitas kecerdasan buatan (AI) di dunia perusahaan tengah berdiskusi intens mengenai batasan kebebasan yang diberikan kepada agen AI. Terlalu sedikit kebebasan dapat menyebabkan otomatisasi kerja yang mahal, sementara terlalu banyak dapat mengakibatkan bencana data seperti yang terjadi pada pengguna awal alat seperti OpenClaw. Baru-baru ini, Google Labs memperkenalkan pembaruan pada Opal, pembuat agen visual tanpa kode, yang menyajikan solusi bagi perdebatan tersebut, sebuah perubahan yang penting bagi para pemimpin IT yang merencanakan strategi agen.
Pembaharuan ini mengenalkan langkah agen yang mengubah alur kerja statis Opal menjadi pengalaman interaktif yang dinamis. Alih-alih menentukan secara manual model atau alat yang akan digunakan, pengguna dapat menetapkan tujuan dan membiarkan agen menentukan jalur terbaik untuk mencapainya. Fitur ini menunjukkan kemajuan yang signifikan, memungkinkan agen untuk memilih alat dan memicu model seperti Gemini 3 Flash, serta berinteraksi dengan pengguna untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Dari pembaruan ini, ada tiga kemampuan utama yang akan menentukan agen perusahaan di masa mendatang: pengaturan adaptif, memori persisten, dan orkestrasi manusia. Pengaturan memori memungkinkan agen untuk mengingat informasi di antara sesi, meningkatkan kinerjanya seiring waktu. Selain itu, fitur interaktif memungkinkan agen untuk meminta klarifikasi dari pengguna ketika tidak memiliki informasi yang cukup.
Dengan pembaruan ini, Google tidak hanya menunjukkan kematangan teknologi yang telah siap diterapkan, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan agen yang lebih canggih, di mana pengembang tidak lagi perlu mendefinisikan setiap langkah secara terperinci. Bagi tim perusahaan, ini merupakan tanda bahwa mereka perlu beradaptasi dengan perubahan dan memanfaatkan kemampuan model terbaru untuk mempercepat adopsi teknologi AI yang berfokus pada tujuan dan interaksi yang lebih manusiawi.