fost-nepal.org – Reece Rogers mengungkapkan bahwa interaksi yang dilakukan dengan aplikasi Muse tidak sesulit yang dibayangkan. Dalam percakapan dengan timnya, Rogers mengisyaratkan bahwa fitur yang tersedia dalam aplikasi ini cukup mengejutkan. Ia menjelaskan bahwa pendekatannya bukan merupakan metode jailbreak atau strategi acak, melainkan dialog terbuka tentang kemampuan aplikasi dalam berinteraksi secara dewasa.
Dalam diskusinya, Rogers membandingkan Muse dengan beberapa agen populer lainnya, termasuk Dots milik OpenAI dan Grok Bot dari xAI. Ia menyatakan bahwa Grok Bot tampaknya lebih fokus pada tugas daripada interaksi yang bersifat intim, berbeda dengan Muse yang dapat melayani permintaan tersebut. Hal ini menunjukkan perbedaan signifikan antara kemampuan dan batasan dari berbagai aplikasi kecerdasan buatan.
Rogers juga mengungkapkan tanggapan dari pihak Meta, yang mengelola Muse. Mereka menegaskan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk pengguna dewasa berusia 18 tahun ke atas, dan interaksi yang terjadi adalah konsensual. Namun, Rogers menyoroti kontradiksi dalam kebijakan Meta yang seringkali menghapus konten dari akun Instagram terkait bar LGBTQ+ dengan alasan konten seksual, sementara Muse dianggap dapat melakukan interaksi bebas. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan mengenai kebijakan dan konsistensi platform terhadap konten dewasa di berbagai aplikasi.
Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana kebijakan platform media sosial dapat berbeda secara signifikan, serta implikasi dari kebijakan tersebut terhadap pengalaman penggunanya. Rogers berharap adanya kejelasan lebih lanjut mengenai pendekatan Meta terhadap konten dewasa dan bagaimana hal ini berpengaruh pada komunitas yang lebih luas.