fost-nepal.org – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di kalangan pengembang perangkat lunak terus berlanjut, di mana perusahaan seperti Kilo Code mencatat bahwa para insinyurnya hanya membaca atau menulis kode sekitar 1% dari waktu mereka. Co-founder Kilo Code, Emilie Schario, menyampaikan bahwa pergeseran ini menimbulkan pertanyaan baru bagi tim pengembang mengenai sistem yang aman untuk diserahkan kepada AI, serta penanganan kesalahan yang mungkin terjadi.
Teknologi AI saat ini semakin menjadi bagian penting dalam alur kerja di banyak perusahaan, termasuk Replit dan Symbotic. Emilie Schario menambahkan bahwa pada umumnya, keterlibatan manusia dalam pengawasan kode semakin menurun, kecuali saat debugging. Di lain pihak, Jared Go dari Symbotic menilai bahwa fokus saat ini adalah memastikan keamanan dan kualitas kode yang dihasilkan oleh AI.
Sistem yang diterapkan oleh Replit juga berbeda, di mana mereka mengadopsi pendekatan lebih hati-hati. Setiap permintaan penggabungan kode (PR) dievaluasi oleh agen AI yang memberikan skor risiko. PR berisiko rendah dapat diunggulkan secara otomatis oleh pengarangnya, sedangkan yang berisiko tinggi perlu ditinjau oleh manusia.
Perusahaan-perusahaan ini juga menyadari tantangan biaya yang meningkat akibat peningkatan adopsi AI. Beberapa perusahaan mulai menerapkan batasan penggunaan untuk mengontrol pengeluaran. Kilo Code, misalnya, menyarankan pengguna untuk memanfaatkan model AI yang lebih mahal untuk perencanaan, sebelum beralih ke model yang lebih terjangkau untuk pekerjaan berikutnya.
Melalui penggunaan agen AI dan penerapan kebijakan pengeluaran yang bijak, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga biaya tetap terkendali. Perubahan ini menunjukkan bagaimana AI tidak hanya merubah cara perusahaan menjalankan operasi tetapi juga cara mereka mempertimbangkan pengembalian investasi (ROI) dalam penggunaan teknologi.