fost-nepal.org – Bill Gates baru-baru ini menerbitkan sebuah esai yang mengangkat isu penting tentang dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja. Dalam esai tersebut, Gates menekankan perlunya perencanaan menyeluruh untuk menghadapi risiko yang muncul akibat perkembangan teknologi ini, terutama bagi pekerja muda. Ia mencatat bahwa dampak negatif dari AI sudah mulai dirasakan, dengan pekerjaan yang tidak pernah diposting dan kehilangan kesempatan kerja yang semakin meningkat.
Gates mengusulkan tiga langkah untuk mengatasi masalah ini: pendirian lembaga baru baik di tingkat domestik maupun internasional, pengenaan pajak pada token AI dan robot, serta penciptaan kategori pekerjaan eksklusif untuk manusia. Meskipun pengamat ekonomi mendukung ide pajak robot sebagai cara untuk menciptakan keadilan dalam industri, banyak yang menyangsikan efektivitas usulan lainnya. Untuk pekerja berusia 22 hingga 25 tahun di sektor yang paling terpapar AI, tingkat pekerjaan mereka kini 19% lebih rendah dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di sektor lain.
Dalam pandangan Gates, solusi jangka panjang memerlukan waktu, namun dunia tidak bisa bergerak lambat. Ia mengusulkan agar lembaga internasional berfungsi seperti badan pengawas penerbangan dan nuklir untuk mengatur AI. Namun, beberapa pengamat menganggap bahwa ada lembaga yang sudah ada, seperti FDA dan FTC, yang dapat langsung berperan mengatur dampak AI tanpa perlu lembaga baru.
Sementara itu, rekomendasi Gates terkait “Human Reserved” atau perlindungan pekerjaan tertentu untuk manusia juga mendapatkan kritik. Ini dianggap hanya dapat diterapkan jika ada cukup tenaga kerja untuk mengisi posisi tersebut. Dalam konteks ini, Gates mengajak masyarakat untuk menggunakan AI untuk mendukung pekerjaan manusia, bukan menggantikan mereka, dan menerapkan solusi praktis yang ada saat ini untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif dan berkeadilan.