fost-nepal.org – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin mendominasi pembicaraan di kalangan pemimpin teknologi dan CIO. Di tengah euforia dan ketakutan akibat lonjakan pesat dalam penggunaan AI, penting untuk tidak menunggu strategi yang sempurna. Kompetisi di dunia teknologi terus berjalan cepat, dan risiko terbesar bukanlah kesalahan dalam penerapan, melainkan menunggu terlalu lama untuk beradaptasi.
Pengalaman individu yang terjun ke dunia teknologi menunjukkan bahwa resistensi terhadap inovasi sering muncul saat teknologi baru diperkenalkan. Ketika memulai karir sebagai CIO di pemerintahan, banyak kesempatan terlewatkan karena ketakutan akan perubahan, yang mengakibatkan budaya inovasi terhambat.
Penerapan AI yang berhasil dimulai dari langkah-langkah kecil dan komitmen untuk membangun kepercayaan. Contohnya, di Workday, teknologi AI diperkenalkan secara bertahap untuk membuat karyawan semakin akrab dan nyaman. Inisiatif “AI Champions” diluncurkan untuk memberikan pelatihan dan membagikan penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga memudahkan penerimaan alat baru tersebut.
Perubahan dalam cara mengevaluasi investasi AI juga krusial. Pengembangan Dewan Penasihat AI membantu memperjelas bahwa tidak semua proyek harus menunjukkan hasil finansial langsung; nilai belajar dari eksperimen juga sangat penting. Kesalahan, bahkan yang kecil, dinilai sebagai peluang untuk belajar.
Akhirnya, budaya pembelajaran dan eksperimentasi harus dibangun untuk mendorong semua level karyawan beradaptasi dengan alat AI. Kokohnya integrasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan asisten suara, menunjukkan betapa pentingnya aksesibilitas dalam penerapan teknologi. Dalam konteks ini, CIO dan pemimpin teknologi diingatkan untuk tidak membiarkan ketakutan menghambat inovasi, melainkan mendorong eksplorasi dan penerapan AI dalam dunia kerja.