fost-nepal.org – Iran telah mengidentifikasi sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Google, Amazon, dan Microsoft, sebagai “target sah” untuk serangan. Pernyataan ini dikeluarkan dalam konteks meningkatnya ketegangan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa pemerintah Teheran sedang mempersiapkan langkah serangan terhadap infrastruktur teknologi yang dianggap sebagai musuh.
Dalam pembaruan di platform Telegram, Tasnim menyebutkan 29 lokasi, termasuk kantor dan pusat data dari tujuh perusahaan tersebut di negara-negara seperti Qatar, Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain. Selain itu, perusahaan teknologi AS lainnya seperti Nvidia, Palantir, IBM, dan Oracle juga dicantumkan sebagai target potensial.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah, di mana ketegangan antara Iran dan lawan-lawannya, terutama AS dan Israel, semakin meningkat. Tasnim menyebutkan bahwa dengan meluasnya konflik, Iran memperluas cakupan target sahnya ke berbagai infrastruktur regional.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa langkah Iran ini dapat berdampak signifikan pada hubungan internasional dan keamanan siber di kawasan. Serangan terhadap infrastruktur teknologi dapat memicu respon dari negara-negara yang menjadi tuan rumah perusahaan-perusahaan tersebut, menciptakan siklus baru dalam konflik yang telah berlangsung lama.
Sikap agresif Iran ini menandai perubahan dalam strategi perang yang memperhatikan tidak hanya kekuatan militer tetapi juga aspek teknologi. Keberadaan perusahaan-perusahaan besar tersebut di kawasan menjadi semakin rentan, menyusul pernyataan provokatif dari Teheran ini.