fost-nepal.org – Nvidia baru saja menandatangani kesepakatan lisensi strategis senilai $20 miliar dengan Groq, menandai langkah signifikan dalam persaingan masa depan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kesepakatan ini menunjukkan bahwa era GPU generik sebagai solusi utama untuk inferensi AI mulai berakhir. Menurut laporan, pada tahun 2026, persaingan dalam industri AI akan semakin terlihat, seiring dengan peralihan menuju arsitektur inferensi terpisah yang memerlukan dua jenis silikon untuk memenuhi kebutuhan akan pemrosesan kontekstual dan penalaran instan.
Nvidia, yang saat ini memegang 92% pangsa pasar, menghadapi ancaman eksistensial saat revenue pusat data dari fase inferensi melewati fase pelatihan untuk pertama kalinya pada akhir 2025. Menurut Deloitte, pergeseran ini menekankan perlunya kecepatan latensi dan kemampuan untuk mempertahankan “state” dalam agen otonom. Dengan akuisisi Groq, Nvidia berharap dapat mengatasi tantangan dari solusi alternatif seperti TPU Google, serta menjaga dominasi ekosistem CUDA.
Dalam kesepakatan ini, Nvidia memperkenalkan chip baru dari keluarga Vera Rubin, yang dirancang untuk menangani beban kerja inferensi yang semakin terfragmentasi. Selain itu, teknologi SRAM yang dimiliki Groq berpotensi memberikan keunggulan dalam pemindahan data dengan efisiensi energi yang lebih baik, meskipun harganya mahal.
Ke depannya, perusahaan-perusahaan yang mampu membedakan antara tipe beban kerja seperti prefill dan decode akan mendapat keuntungan. Nvidia dengan bijak mengambil langkah teknis untuk memperkuat keberadaannya di tengah kompetisi ini, mempersiapkan diri menghadapi tantangan teknologi yang kompleks pada tahun 2026.