fost-nepal.org – Dalam setahun terakhir, pengambil keputusan di kalangan perusahaan telah dihadapkan pada pilihan sulit terkait kecerdasan buatan suara. Mereka harus memutuskan antara menggunakan model “Native” yang menawarkan kecepatan dan keakuratan emosional, atau sistem “Modular” yang memberikan kontrol dan auditabilitas. Perdebatan ini kini menciptakan segmentasi pasar yang jelas, didorong oleh dua kekuatan yang bersamaan mengubah lanskap teknologi.
Salah satu kekuatan tersebut adalah dominasi Google yang menyediakan lapisan “inteligensi mentah” dengan peluncuran Gemini 2.5 Flash dan Gemini 3.0 Flash, memungkinkan otomatisasi suara dengan biaya yang lebih terjangkau. Sementara itu, OpenAI melakukan pemangkasan harga sebesar 20% untuk API Realtime-nya, memperkecil gap harga dengan Gemini.
Namun, model “terpadu” baru juga mulai muncul. Penyedia teknologi seperti Together AI kini mengatasi masalah latensi dengan menggabungkan komponen transkripsi, pemrosesan, dan sintesis dalam satu arsitektur fisik. Pendekatan ini tidak hanya menawarkan kecepatan setara model native, tetapi juga menjaga jejak audit yang dibutuhkan oleh industri terregulasi.
Dalam konteks ini, pilihan bagi eksekutif perusahaan kini tidak hanya berfokus pada performa model, tetapi juga strategi antara model utilitas yang efisien biaya dengan tumpukan spesifik domain yang mendukung kepatuhan. Latensi—waktu yang diperlukan dari akhir ucapan pengguna hingga respon agen—menjadi faktor penentu kepuasan pengguna. Perbedaan millisecond bisa ditentukan oleh tiga metrik teknis: Time to First Token (TTFT), Word Error Rate (WER), dan Real-Time Factor (RTF).
Kondisi ini menunjukkan bahwa arsitektur sistem sangat penting, terutama bagi industri yang memerlukan pengawasan ketat seperti kesehatan dan keuangan. Pilihan arsitektur yang tepat akan menentukan apakah agen suara dapat berfungsi dalam lingkungan terregulasi, memengaruhi tingkat keberhasilan dan kepuasan interaksi pengguna.